Cukup mudah mencari dan menemukan
pula memahami teori kepemimpinankarena
teori semacam ini sudah hampir setua umur manusia, atau setidaknya setua ilmu
mengenai kepemimpinan (leadership). Satu hal yang menjadiconcern dari
kepemimpinan adalah sifatnya yang harus lebih cair lebih fluid,
menerima garis besar keyakinan masyarakat yang telah ada.
Oleh karenanya, orang sulit
sekali mencari teori genuine tentang memimpin. Biasanya, teori
semacam itu sudah tersedia di masyarakat dan para ahli sosial hanya sibuk
mendefiniskan teori kepemimpinan dari bahan baku yang telah
tersedia di masyarakat.
Entah dalam bentuk langkah pragmatis
seorang pemimpin sukses yang diresumekan atau diambil dari resep biografi para
tokoh besar yang juga sukses memimpin. Dalam hal ini, teori kepemimpinan
tersedia banyak di masyarakat dan menyesuaikan diri dengan keinginan
masyarakatnya. Berikut ini beberapa teori kepemimpinan.
1.
Situasional Approach
(Pendekatan Situasional)
Situasional
Approach sering diartikan oleh para profesional sebagai
manajemen yang merdasarkan situasi. Situasional
Approach berfokus pada dua situasi yang dimiliki oleh para pengikut dari
seorang pemimpin, yaitu:
a.
Kompetensi
Kompetensi dapat berarti banyak hal meliputu
kemampuan dari para pengikut, pemahamannya, kepandaiannya, serta
kemandiriannya. Seorang pengikut dianggap memiliki kompetensi yang tinggi
apabila ia dapat menyelesaikan tugas yang diberikan sesuai dengan ekspektasi
pemimpin.
b.
Komitmen
Komitmen dari pengikut adalah hal berikutnya
setelah kompetensi. Seorang pengikut dianggap memiliki komitmen yang tinggi
apabila memiliki daya juang yang kuat untuk menyelesaikan tugas-tugasnya.
2.
Contingency Theory (Teori
Kontigensi)
Teori ini diterjemahkan menjadi Teori
Kontingensi. Teori ini setipe dengan Pendekatan Situasonal dan sering disebut
sebagai “leader-mach” (penyesuaian dengan pemimpin). Teori ini difokuskan
pada gaya kepemimpinan dan situasi yang menjadi kerangka kerjanya. Gaya
kepemimpinan pada kontigensi mengacu pada dua motivasi, yaitu:
a.
Task Motivation
(Motivasi yang mengacu pada tugas)
Pemimpin fokus pada tugas dan hasil yang
dicapainya.
b.
Relationship Motivation
(Motivasi yang mengacu pada relasi)
Pemimpin fokus pada usaha untuk membangun
relasi dengan pengikut-pengikutnya.
3.
Path-Goal Theory (Teori
Saran-Tujuan)
Teori ini memberikan pilihan gaya kepemimpinan
terbaik yang dibutuhkan oleh para pemimpin untuk memimpin bawahan dan
pekerjaannya. Teori ini mirip dengan Pendekatan Situasional dan Teori
Kontingensi, meskipun ketiganya memiliki perbedaan masing-masing. Ada beberapa
pendekatan gaya di dalam Teori Sarana-Tujuan, yaitu:
a.
Directive Leadership (Gaya Direktif)
Gaya ini diberlakukan pada situasi di mana
pengikut bersifat turut dan patuh, di mana tugas-tugas terasa membingungkan dan
aturan organisasi dan prosedur juga tidak jelas bagi mereka. Pemimpin
memberikan intruksi yang jelas tentang tugasnya, serta apa yang diharapkan
untuk dikerjakan oleh pengikut.
b.
Supportive
Leadership (Gaya Suportif)
Pemimpin menerapkan gaya kepemimpinan yang
bersahabat dan merangkul. Pemimpin menganggap pengikut sebagai pribadi yang
setara dan dihargai sebagai rekan kerja.
c.
Participative
Leadership (Gaya Partisipatif)
Gaya ini diterapkan pada situasi di mana
terdapat sebuah tugas yang membingungkan. Pemimpin mengajak pengikut untuk
memberikan partisipasi, ide dan opini tentang bagaimana menggunakan sarana
untuk mencapai tujuan.
d.
Achievement-Oriented Leadership (kepemimpinan
yang berorientasi pada hasil)
Pada
gaya kepemimpinan ini, pemimpin memberi tantangan kepada pengikut dengan
standar pekerjaan yang tinggi, serta melakukan perbaikan terus menerus (continous
improvement).
Teori
Kepemimpinan Herbert Kelman dan Pengaruh Pemimpin
Dalam teori kepemimpinan dari
Herbert C. Kelman, pengaruh kepemimpinan kita kepada orang lain dapat berupa
tiga hal, yaitu:
Internalisasi
Internalisasi terjadi bila orang
menerima pengaruh karena perilaku yang dianjurkan itu sesuai dengan sistem
nilai yang dimilikinya. Dalam teori kepeminpinan ini disebutkan bahwa kita
menerima gagasan, pikiran, atau anjuran orang lain karena gagasan, pikiran, atau
anjuran orang lain itu berguna untuk memecahkan masalah, penting dalam
menunjukkan arah, atau dituntut oleh sistem nilai kita.
Internalisasi terjadi ketika kita
menerima anjuran orang lain atas dasar rasional. Misalnya, kita berhenti
merokok karena kita ingin memelihara kesehatan kita karena merokok tidak sesuai
nilai-nilai yang kita anut. Dimensi ethos yang paling relevan dalam hal ini
adalah kredibilitas, yaitu keahlian pemimpin atau kepercayaan kita pada
pemimpin.
Identifikasi
Identifikasiterjadi bila individu
mengambil perilaku yang berasal dari orang atau kelompok lain karena perilaku
itu berkaitan dengan hubungan yang mendefinisikan diri secara memuaskan (satisfying
self-defining relationship) dengan orang atau kelompok itu. Hubungan yang
mendefinisikan diri artinya memperjelas konsep diri. Dalam identifikasi,
individu mendefinisikan perannya sesuai dengan peranan orang lain.
Dengan perkataan lain, ia berusaha
seperti atau benar-benar menjadi orang lain. Dengan mengatakan apa yang ia
katakan, melakukan apa yang ia akukan, mempercayai apa yang ia percayai,
individu mendefinisikan dirinya sesuai dengan orang yang mempengaruhinya.
Identifikasi terjadi ketika anak berperilaku mencontoh ayahnya, murid meniru
tindak tanduk gurunya, atau penggemar bertingkah dan berpakaian seperti bintang
yang dikaguminya. Dimensi ethos yang paling relevan dengan identifikasi
ialah atraksi (daya tarik pemimpin).
Ketundukan
Ketundukan terjadi bila individu
menerima pengaruh dari orang atau kelompok lain karena ia berharap memperoleh
reaksi yang menyenangkan dari orang atau kelompok lain tersebut. Ia ingin
memperoleh ganjaran atau menghindari hukuman dari pihak yang mempengaruhinya.
Dalam ketundukan, orang menerima perilaku yang dianjurkan bukan karena
mempercayainya, tapi karena perilaku tersebut membantunya untuk menghasilkan
efek sosial yang memuaskan.
Bawahan yang mengikuti perintah
atasannya karena takut dipecat, pegawai negeri yang masuk parpol tertentu
karena kuatir diberhentikan, petani yang menanam sawahnya karena ancaman pamong
desa adalah contoh-contoh ketundukan. Dimensi ethos yang berkaitan dengan
ketundukan ialah kekuasaan.
Teori
Kepemimpinan Kendra Cherry
Kendra Cherry adalah seorang
edukator dan penulis psikologi, berhasil mengumpulan beberapa teori kepemimpinan,
di antara sebagai berikut.
Teori
Kepemimpinan “The Great Man"
Teori-teori kepemimpinan si orang
besar yang menganggap bahwa kepemimpinan adalah kemampuan yang inheren- bahwa
pemimpin hebat itu dilahirkan, bukan dibuat. Teori-teori ini sering menggambarkan
pemimpin besar sebagai manusia yang heroik, mistis, dan ditakdirkan untuk naik
ke kepemimpinan bila diperlukan. "Manusia Besar" adalah istilah yang
digunakan karena pada saat itu, kepemimpinan dianggap yang paling
utama. Thomas Carylie dan Herbert Spencer pada abad 18 yang memperkenalkan
teori ini.
Teori
Kepemimpinan Trait
Serupa dalam beberapa penjelasan
dengan teori "Manusia Besar", teori kepemimpinan ini berasumsi bahwa
orang mewarisi sifat-sifat tertentu dan sifat-sifat yang kelak akan membuat
mereka lebih cocok untuk memimpin. Teori Trait sering mengidentifikasi
kepribadian tertentu atau karakteristik perilaku yang mengarahkan pada
kecakapan.
Ralph Kiem menjelaskan bahwa Edwin
Ghiselli sebagai orang yang memperkenalkan teori ini, menemukan adanya ciri-ciri
khusus dan fitur tertentu pada orang perorang yang berkaitan dengan kecakapan
memimpin, dan model kepemimpinan bisa di asah lebih lanjut.
Teori
Kepemimpinan Kontingensi
Teori kepemimpinan ini
berfokus pada variabel tertentu yang berkaitan dengan lingkungan yang mungkin
menentukan gaya kepemimpinan seseorang sehingga seorang pemimpin lentur dan
fleksibel mengambil semua daya yang tengah tersedia padanya. Menurut teori
kontingensi, tidak ada gaya kepemimpinan yang terbaik dalam segala situasi.
Sukses memimpin bergantung pada
sejumlah variabel, termasuk gaya kepemimpinan, kualitas dari pengikut dan aspek
sumber daya. Robert Lussier menjelaskan teori ini begitu sering dipakai pada
kepemimpinan perusahaan di era tahun 60-an.
Teori
Kepemimpinan Situasional
Teori Situasional mengusulkan bahwa
pemimpin memilih tindakan yang terbaik berdasarkan variabel situasional. Gaya
kepemimpinan yang berbeda, bisa disadur dari berbagai macam teori, yang baginya
lebih tepat untuk beberapa jenis pengambilan keputusan.
Teori
Kepemimpinan Perilaku
Teori perilaku didasarkan pada
keyakinan bahwa pemimpin besar itu dibuat, bukan dilahirkan. Berakar pada
behaviorisme Watson, teori kepemimpinan ini berfokus pada tindakan pemimpin
bukan pada kualitas mental atau internal. Menurut teori ini, orang bisa belajar
untuk menjadi pemimpin melalui pengajaran dan observasi yang cermat lalu
memutuskan langkah dari sistem yang tersedia padanya, bagai arahan flowchart.
Teori
Kepemimpinan Partisipatif
Teori kepemimpinan partisipatif
menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan yang ideal adalah yang mengambil masukan
dari orang lain ke account pengambilan keputusan. Para
pemimpin mendorong semua partisipasi dan kontribusi dari para anggota kelompok
yang available, dan lantas membantu anggota kelompok terlibat dan
berkomitmen terhadap proses pengambilan keputusan.
Dalam teori partisipatif,
bagaimanapun pemimpin utama tetap memiliki hak untuk memutuskan segala masukan
dari orang lain itu. Teori ini sudah setua umur demokrasi.
Teori
Kepemimpinan Manajerial
Teori manajemen juga dikenal sebagai
teori transaksional, fokus pada peran pengawasan kinerja, organisasi, dan
kelompok. Ini juga mendasarkan teori kepemimpinan pada sistem imbalan dan
hukuman. Teori manajerial yang sering digunakan dalam bisnis ketika karyawan
yang sukses, mereka dihargai, ketika mereka gagal, mereka ditegur atau
dihukum.
Teori
Kepemimpinan Relationship
Teori hubungan juga dikenal sebagai
teori transformasi, berfokus pada hubungan yang terbentuk antara pemimpin dan
pengikutnya. Pemimpin transformasional memotivasi dan menginspirasi orang
dengan membantu anggota kelompok melihat pentingnya suatu tugas. Para pemimpin
ini memfokuskan pada evaluasi kinerja anggota kelompok. Pemimpin dengan gaya
ini sering sekali memiliki standar etika dan moral yang tinggi.
Teori kepemimpinan merupakan
bagian paling esensial dalam kepemimpinan efektif. Terdapat beberapa teori
kepemimpinan sebagaimana yang telah mengalami pergeseran makna. Ada beberapa
‘kekuatan’ pemimpin dalam teori kepemimpinan yang didegradasi maknanya oleh
abad konsumsi.
Seorang pemimpin, yang di masa lalu
diwakili oleh mereka yang kharismatik dan menampakkan sisi pemimpin, muncul ke
tengah orang banyak karena berani membawa aspirasi orang banyak. Maka pada abad
konsumsi, diyakini bahwa kepemimpinan lebih banyak lahir dari pesanan
pemirsanya, diseleksi berdasarkan rating kecakapan dan citra
diri (Baxter, 2004:85).



Tidak ada komentar:
Posting Komentar